Indahnya Surat Al Baqarah ayat 60 - 61 di lantunkan oleh Nayla Syifa Pap...









Ayat 60 :
Pada permulaan ayat ini,
Allah swt mengisahkan bagaimana Nabi Musa a.s. berdoa kepada Allah untuk
mendapatkan air minum bagi para pengikutnya yang terdiri dari dua belas suku.
Allah mengabulkan doa tersebut, lalu memerintahkan Nabi Musa memukulkan tongkatnya
ke sebuah batu besar yang ada di padang pasir itu. Tiba-tiba memancarlah air
dari batu itu sebanyak dua belas sumber, sehingga masing-masing suku dari kaum
Nabi Musa itu mendapatkan air minum secukupnya. Kejadian ini merupakan mukjizat
bagi Musa untuk membuktikan kerasulannya, dan untuk menunjukkan kekuasaan
Allah. Sesungguhnya Allah kuasa memancarkan air dari batu, tanpa dipukul dengan
tongkat lebih dahulu, tetapi Allah hendak memperlihatkan kepada hamba-Nya
hubungan sebab dengan akibat. Apabila mereka menginginkan sesuatu harus
berusaha dan bekerja untuk mendapatkannya sesuai proses hubungan antara sebab
dan akibat. Allah telah menyediakan rezeki untuk setiap makhluk-Nya yang hidup
di bumi ini, tetapi rezeki itu tidak datang sendiri, melainkan harus diusahakan,
dan harus ditempuh cara-caranya. Siapa yang malas berusaha tentu tidak akan
mendapatkan rezeki yang diperlukan. Di samping itu Allah telah menciptakan
manusia mempunyai pikiran dan perasaan yang terbatas, sehingga dia hanya dapat
memahami yang berada dalam daerah jangkauan indera, pikiran, dan perasaannya.
Apabila dia melihat adanya sesuatu yang berada di luar kemampuannya, dia
berusaha untuk mengembalikan persoalannya kepada yang telah diketahuinya. Bila
dia tidak dapat memahaminya sama sekali, dia menjadi bingung, apalagi hal itu
terjadi di hadapannya berulang kali. Maka Allah memperlihatkan mukjizat melalui
para nabi sesuai dengan keadaan umat pada masa nabi itu. Allah menyuruh mereka
makan dan minum dari rezeki yang telah dilimpahkan kepada mereka, dan mereka
dilarang untuk berbuat kezaliman.
Ayat 61 :
Ketika Bani Israil tersesat
di padang pasir Sinai, mereka berkata kepada Nabi Musa bahwa mereka tidak tahan
terhadap satu jenis makanan saja, sedang yang ada hanya mann dan salwa saja
(al-Baqarah/2:57). Mereka berkata demikian karena keingkaran mereka terhadap
Nabi Musa a.s. dan kebanggaan terhadap kehidupan mereka dahulu. Bani Israil
kemudian meminta kepada Musa a.s. agar berdoa kepada Tuhan semoga Dia
mengeluarkan sayur-sayuran yang ditumbuhkan bumi sebagai ganti mann dan salwa.
Mereka tidak mau berdoa sendiri, tetapi mengharapkan Musa yang berdoa kepada
Tuhan, karena mereka memandang Musa orang yang dekat kepada Tuhan dan lagi pula
dia seorang Nabi yang dapat bermunajat kepada Allah. Sayur-mayur dan lain-lain
yang mereka minta itu banyak terdapat di kota-kota, tapi tidak terdapat di
padang pasir. Sebenarnya permintaan itu tidak sukar dicari, karena mereka dapat
memperolehnya asal saja mereka pergi ke kota. Nabi Musa menolak permintaan itu
dengan penuh kekecewaan dan kejengkelan serta mencela sikap mereka karena
mereka menolak mann dan salwa, makanan yang sebenarnya mengandung nilai gizi
yang tinggi dan sangat diperlukan oleh tubuh, diganti dengan sayur-mayur yang
lebih rendah gizinya. Kemudian Nabi Musa menyuruh mereka keluar dari gurun
Sinai dan pergi menuju kota. Di sana mereka akan mendapatkan yang mereka
inginkan, sebab gurun Sinai tempat mereka tinggal sampai batas waktu yang telah
ditentukan Allah, tidak dapat menumbuhkan sayur-sayuran. Mereka tinggal di
gurun Sinai itu karena mereka lemah dan tidak tabah untuk mengalahkan penduduk
negeri yang dijanjikan bagi mereka. Mereka akan lepas dari hal yang tidak
mereka sukai, bilamana mereka memiliki keberanian memerangi orang-orang yang di
sekitar mereka, yaitu penduduk bumi yang dijanjikan Allah dan menjamin memberi
pertolongan kepada mereka. Oleh sebab itu, hendaknya mereka mencari jalan untuk
mendapatkan kemenangan dan keuntungan. Setelah Allah menceritakan penolakan
Musa terhadap permintaan mereka dan sebelumnya telah membentangkan pula segala
nikmat yang dikaruniakan kepada mereka, dalam ayat ini Allah mengemukakan
beberapa kejahatan keturunan Bani Israil yang datang kemudian, yaitu mereka
mengingkari ayat-ayat Allah, membunuh nabi-nabi dan pelanggaran mereka terhadap
hukum Allah. Oleh sebab itu, Allah menimpakan kepada mereka kehinaan dan
kemiskinan sebagai wujud kemurkaan-Nya. Sudah semestinya mereka menerima murka
Ilahi, menanggung bencana dan siksaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat.
Demikian pula mereka mendapatkan kehinaan dan kemiskinan karena mereka selalu
menolak ayat-ayat Allah yang telah diberikan kepada Nabi Musa berupa mukjizat
yang telah mereka saksikan sendiri. Kedurhakaan dan penolakan mereka terhadap Nabi
Musa adalah suatu bukti bahwa ayat-ayat Allah tidak berpengaruh pada jiwa
mereka. Mereka tetap mengingkarinya. Mereka membunuh para nabi dari golongan
mereka, tanpa alasan yang benar. Memang sesungguhnya orang yang berbuat
kesalahan kadang-kadang meyakini bahwa yang diperbuatnya adalah benar.
Perbuatan mereka yang demikian itu bukanlah karena salah dalam memahami atau
menafsirkan hukum, tetapi memang dengan sengaja menyalahi hukum-hukum Allah
yang telah disyariatkan di dalam agama mereka. Kekufuran mereka terhadap
ayat-ayat Allah dan kelancangan mereka membunuh para nabi, karena mereka banyak
melampaui batas ketentuan agama mereka. Seharusnya agama mempunyai pengaruh
yang besar pada jiwa manusia, sehingga penganutnya takut menyalahi perintah
Allah. Apabila seseorang melampaui peraturan-peraturan atau batas-batas
agamanya berarti pengaruh agama pada jiwanya sudah lemah. Semakin sering dia
melanggar batas hukum agama itu semakin lemah pulalah pengaruh agama pada
jiwanya. Sampai akhirnya pelanggaran ketentuan-ketentuan agama itu menjadi
kebiasaannya, seolah-olah dia lupa akan adanya batas-batas agama dan
peraturan-peraturannya. Akhirya lenyaplah pengaruh agama dalam hatinya.

Komentar